Abstraksi adalah cara kita untuk menyederhanakan kompleks object menjadi sesuatu yang mudah dipahami sesuai dengan konteks. Dalam cerita Simon Sinek disebutkan pada saat efisiensi biaya di sebuah perusahaan, biaya untuk karyawan disederhanakan menjadi angka (rupiah atau dollar), namun konkret bahwa karyawan adalah manusia itu terlupakan. Abstraksi disebutkan sebagai sesuatu yang buruk.
Kaitannya di sini, adalah abstrakti tentang untuk apa dan untuk siapa kita bekerja. Ya pada akhirnya semua perusahaan adalah mendapatkan bottom line (keuntungan), namun kita bisa mempersepsikan sendiri dengan begitu kita punya tujuan (purpose) yang kuat dan motivasi yang konsisten.
Abstraksi di role pekerjaan yang saya ambil misalnya bagaimana menyelesaikan tugas sesuai dengan batasan yang telah diberikan, mendeliver value -- sangat tidak konkret :) value apa. Namun saya menerjemahkan dalam bahasa saya sendiri bahwa apapun yang saya kerjakan akan bermanfaat bagi nasabah (dalam skala kecil), dan bermanfaat bagi masyarakat (dalam skala besar), dan inilah konkretnya atas apa yang saya yakini telah dan sedang saya lakukan. Bahwa saya mengerjakan proyek justru inilah abstraksi.
Saya yakin saya menjelaskan ini secara bertele-tele. Namun saya ulangi lagi, bahwa kita harus konsisten cek apa yang kita lakukan harus punya tujuan.
Diskusi kecil dengan Pak Yudi saat itu kurang lebih seingat saya seperti ini. Bagaimana seseorang melakukan suatu aktivitas dan bagaimana seseorang mengetahui atau sadar atas apa yang dia lakukan. Ilustrasi ada orang sedang bekerja yang kita lihat adalah dia sedang mengaduk semen. Lantas orang bertanya, "Pak, apa yang sedang bapak kerjakan".
Jawaban pertama, "Saya sedang mengaduk semen".
Kedua, "Saya sedang mempersiapkan untuk membangun tembok".
Ketiga, "Saya sedang membangun rumah".
Keempat, "Saya sedang membangun tempat tinggal untuk keluarga saya".
Bagaimana kesadaran atas apa yang dia lakukan akan menentukan ketekunan, fokus, ketangguhan.
Balik ke konteks apa yang saya kerjakan versus untuk apa/siapa pekerjaan saya, maka momen yang berharga dan saya selalu disegarkan kembali akan tujuan ini:
- Interview. Pada saat menceritakan btpns ke kandidat, saya selalu tekankan siapa stakeholder btpn syariah. Mengapa btpn syariah menjadi sesuatu yang unik.
- Kunjungan ke nasabah. Melihat bagaimana mereka terbantu dengan adanya produk btpn, dan bagaimana kita sebagai karyawan adalah bagian dari orang/sistem yang mendukung produk tersebut.
- Diskusi dengan petugas. Mendengarkan, membaca, dan mencermati.
Pada akhirnya dengan kita tahu untuk apa dan untuk siapa pekerjaan kita. Layaknya pada saat kita sholat, kita tahu bahwa ini hanya gerakan berdiri, bungkuk, sujud, namun pada hakikatnya kita adalah sedang mempersembahkan hidup kita untuk beribadat ke Tuhan Yang Maha Esa.
No comments:
Post a Comment