Beda toko yang punya etalase dan yang ga punya etalase.
Toko yang ga punya etalase biasanya:
1. Memang produknya ga sembarang, ga perlu woro-woro emang dicari orang. Sekalinya woro-woro langsung sold-out karena marketing channelnya udah mantengin.
Belajar dengan Berbagi
Beda toko yang punya etalase dan yang ga punya etalase.
Toko yang ga punya etalase biasanya:
1. Memang produknya ga sembarang, ga perlu woro-woro emang dicari orang. Sekalinya woro-woro langsung sold-out karena marketing channelnya udah mantengin.
Tahun ketiga kuliah, menjadi tantangan pertama untuk bisa keluar dari zona akademisi untuk kemudian mengambil pengalaman PKL (Praktek Kerja Lapangan). Semua tekanan mengalir deras, berawal dari bahwasanya kurangnya jejaring di luar kampus. Rata-rata teman sudah mendapatkan tempat magang dari koneksi kakak kelas, relasi orang tua atau kerabat saudara, atau halnya dengan melakukan kontak dari daftar tempat magang tahun-tahun sebelumnya yang dicatat di tim akademik.
Kemudian hal yang sama saya lakukan dengan kata kuncinya mencari koneksi alumni/kakak kelas yang sudah bekerja di perusahaan. Lantas muncul adalah sosok dari Mas Dodong Cahyono, alumni informatika '91.
Hal yang pertama saya lakukan inquiry by email.
Tanya saja, pikir saya waktu itu.
![]() |
| Tanya saja! |
Benar bahwa tidak ada mekanisme kerja magang di tempat ini, namun Alhamdulillah dapat diusahakan untuk diakomodir. Senang luar biasa. Dari sini pula saya mengenal lebih dekat Gozali (panggilan Egoz) karena dia belum mendapatkan tempat magang, dan saya menawarkan untuk bareng kerja di tempat ini. Perspektif yang berbeda dengan tugas kelompok kuliah tentunya. Kompensasi dari kerja magang ini pun termasuk tinggi dibandingkan dengan tempat magang teman-teman yang lain. Apa yang dilakukan juga real project (dengan demikian setting urgensi juga dapat).
Merasa senang bahwa dengan yang sudah dilakukan bertambahlah tempat kerja praktek yang baru untuk adik kelas. Menjadi rujukan salah satu tempat kerja lulusan informatika dengan program IMLP-nya (semacam MT untuk divisi IT). Menjadi tempat yang prestisius juga dengan nama besar General Electric.
Oleh-oleh magang yang luar biasa buat saya statemen dari Pak Chairil Anwar (IT Head pada saat itu) adalah; Seberapapun kompleks/mahal/besar sistem yang dibangun selama minim value ke bisnis maka itu tidak ada gunanya. Namun hal yang kecil selama memberikan value yang besar ke bisnis itulah yang benar. Jadi konsisten untuk memvalidasi ke bisnis valuenya.
Tidak sadar bahwa inilah yang diangkat dalam agile value tentang customer value centricity.
| Temukan Arah Hidupmu |
Dari Pak Dirut terkait dengan filosofi bekerja, beliau mengutarakan bahwa dia percaya kerja dan reward itu seperti kuda dan pedati. Tidak ada pedati didorong ke depan oleh kuda, yang ada adalah kuda di depan menarik pedati.
| Ilustrasi Pedati |
Sedangkan untuk saya sendiri, saya percaya bahwa rejeki itu sudah digariskan oleh Allah Tuhan semesta alam. Bahwa reward itu sudah digariskan sedemikian rupa sehingga salah satu takdirnya juga saya berbaik sangka bahwa reward saya sedemikian tingginya.
Berbaik sangka bahwa ada banyak cara halal untuk mencapaikan. Berbaik sangka bahwa tanpa melakukan yang harampun saya akan selalu dijamin rejekinya oleh Allah Tuhan Maha Pemberi Rizki. Nah yang tidak dijaminkan oleh Allah adalah bagaimana keadaan kita di akhirat. Sehingga yang perlu kita usahakan adalah berikhtiar sebagus mungkin, semanfaat mungkin, sekecil mungkin dzalim. Pada dasarnya kita dzalim. Selalu ada porsi dzalim bahkan di saat kita mengusahakan untuk bisa adil. Sehingga reward saya adalah kesempatan untuk bekerja berikhtiar di tempat saya pandang memberikan kemuliaan bagi saya.
Namun demikian ini adalah hubungan saya dengan Tuhan saya. Tidak dalam konteks hubungannya dengan employer. Saya harus mengupayakan reward tersebut diberikan, karena ketika saya mengupayakan hal tersebut, itu adalah amal sholeh saya. Kalau saya terima pasrah atas yang dilakukan oleh perusahaan berarti saya berburuk sangka bahwa rejeki saya terbatas atas apa yang saya terima di hari/bulan/tahun sebelumnya.
Filsafat Kuda dan Pedati tidak menyalahi prinsip yang saya pegang. Karena kuda dan pedati adalah keniscayaan akan keadilan. Tentu kalau kita punya pekerja pada saat kita sudah menjadi pengusaha atau pemilik usaha, kita akan memberikan sesuatu sesuai dengan kontribusi yang diberikan. Bukan atas kehadiran/presensi seseorang, melainkan atas kontribusinya. Ini adalah sunnatullah. Dan saya berbaik sangka bahwa Allah tidak akan melupakan pedatinya, dan saya tidak menyandarkan pedati saya ke perusahaan. saya menyandarkan pedatinya ke Allah.
Dan saking saya berbaik sangkanya kepada Allah, jika memang pedati itu tidak ada saat ini, saat sekarang, pedatinya lagi disimpan Allah untuk diberikan nanti ketika bertemu dengan-Nya. Saya akan menagihnya.
Betul. Enak :) Tapi di luar itu sebenernya ada hal lain yang jadi pertimbangan.
Beberapa hal yang menjadi konsekuensi dengan pengambilan COP:
Beda toko yang punya etalase dan yang ga punya etalase. Toko yang ga punya etalase biasanya: 1. Memang produknya ga sembarang, ga perlu woro...