Sunday, May 8, 2022

Mengajak Tim untuk "Kelihatan"

Beda toko yang punya etalase dan yang ga punya etalase.

Toko yang ga punya etalase biasanya:

1. Memang produknya ga sembarang, ga perlu woro-woro emang dicari orang. Sekalinya woro-woro langsung sold-out karena marketing channelnya udah mantengin.

Thursday, March 24, 2022

Mencari Jalan; Tanya Saja; Coba Saja!

Tahun ketiga kuliah, menjadi tantangan pertama untuk bisa keluar dari zona akademisi untuk kemudian mengambil pengalaman PKL (Praktek Kerja Lapangan). Semua tekanan mengalir deras, berawal dari bahwasanya kurangnya jejaring di luar kampus. Rata-rata teman sudah mendapatkan tempat magang dari koneksi kakak kelas, relasi orang tua atau kerabat saudara, atau halnya dengan melakukan kontak dari daftar tempat magang tahun-tahun sebelumnya yang dicatat di tim akademik.

Kemudian hal yang sama saya lakukan dengan kata kuncinya mencari koneksi alumni/kakak kelas yang sudah bekerja di perusahaan. Lantas muncul adalah sosok dari Mas Dodong Cahyono, alumni informatika '91.

Hal yang pertama saya lakukan inquiry by email. 

Tanya saja, pikir saya waktu itu.

Tanya saja!


Benar bahwa tidak ada mekanisme kerja magang di tempat ini, namun Alhamdulillah dapat diusahakan untuk diakomodir. Senang luar biasa. Dari sini pula saya mengenal lebih dekat Gozali (panggilan Egoz) karena dia belum mendapatkan tempat magang, dan saya menawarkan untuk bareng kerja di tempat ini. Perspektif yang berbeda dengan tugas kelompok kuliah tentunya. Kompensasi dari kerja magang ini pun termasuk tinggi dibandingkan dengan tempat magang teman-teman yang lain. Apa yang dilakukan juga real project (dengan demikian setting urgensi juga dapat). 

Merasa senang bahwa dengan yang sudah dilakukan bertambahlah tempat kerja praktek yang baru untuk adik kelas. Menjadi rujukan salah satu tempat kerja lulusan informatika dengan program IMLP-nya (semacam MT untuk divisi IT). Menjadi tempat yang prestisius juga dengan nama besar General Electric.

Oleh-oleh magang yang luar biasa buat saya statemen dari Pak Chairil Anwar (IT Head pada saat itu) adalah; Seberapapun kompleks/mahal/besar sistem yang dibangun selama minim value ke bisnis maka itu tidak ada gunanya. Namun hal yang kecil selama memberikan value yang besar ke bisnis itulah yang benar. Jadi konsisten untuk memvalidasi ke bisnis valuenya.

Tidak sadar bahwa inilah yang diangkat dalam agile value tentang customer value centricity.

Saturday, March 19, 2022

Tanya: Bagaimana Bisa Bertahan di Beberapa Manajemen yang Berbeda?

Ada salah satu teman kerja bertanya, bagaimana saya bisa sustain atau bertahan dalam beberapa manajemen yang berbeda?

Sebelumnya terima kasih atas pertanyaan tersebut, tidak sempat terlintas bahwa saya adalah seorang survivor (penyintas) dalam konteks tersebut. Saya hanya bekerja, dan berusaha untuk bisa bekerja. Ada banyak catatan kalau bisa saya share di sini. Namun ini adalah yang terlintas di benak saya dalam menjawab pertanyaan tersebut.

Kilas balik di 2011an
Tidak dapat dipungkiri bahwa saya bekerja dengan the winning team. Achievement yang luar biasa dan salah satu tempaan saya dalam berkarir dan membentuk karakter saya. Prinsip tentang integritas, tentang komitmen, tentang value ke user. Namun demikian ada yang terpikir di kepala saya, bahwa saya harus bisa 'mandiri', bisa mempunyai warna dalam karakter saya sendiri. Yang kemudian saya sebagiannya saya tuangkan di sini Kesempatan untuk Berkarakter.
Dalam masa tersebut, saya memutuskan untuk bereksperimen dengan leadership yang berbeda. Dari sana saya selling personality saya di luar dari the winning team tersebut.

2015, Reorientasi untuk Perbankan Syariah
Di tahun ini saya memiliki pengalaman bekerja tak terlupakan, kalau sebelumnya berbeda leadership tapi masih satu culture company, di tahun ini benar-benar dengan company culture yang berbeda. Namun komitmen dalam diri pribadi saya putuskan bahwa saya harus mengusahakan sesuatu atas kepercayaan saya, tentang agama saya. Dan saya kembali ke winning team tersebut, namun bukan dengan background utama bahwa mereka adalah the winning team yang membentuk saya, melainkan produk syariah yang menjadi tujuan utama saya. Tentu bagian dari the winning team sangat menguntungkan saya, tidak dapat saya sangkal. Dan saya berterima kasih atas kemudahan tersebut.

2018an, Dinamika Kepemimpinan
Seperti halnya kalau kita sholat berjamaah kemudian imam berganti, yang mungkin bukan sesuai dengan selera kita, apakah kita berhenti sholat berjamaah. Saya jawab tidak. Saya sholat berjamaah di sini bukan karena imamnya, tapi karena pahala yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Pemimpin yang baru bukan juga orang yang benar-benar baru untuk saya. Saya sudah mengenalnya dari 2005 (lebih dari sepuluh tahun yang lalu). Dan ini salah satu kemudahan juga buat saya.

2020an, Dinamika Kepemimpinan Jilid-2
Saya sempat share dalam sebuah forum, ini seperti sebuah sekolah ganti kepala sekolah, apakah kemudian akan ganti program. Hal tersebut menunjukkan resistansi saya. Suatu hal yang wajar atas perubahan yang drastis. Namun saya tekankan dalam diri saya pribadi, saya di sini loyal terhadap produk bank syariah, bukan atas suatu kepemimpinan perusahaan. Selama value ini tetap melekat dalam perusahaan, maka saya akan terus sholat jamaah dalam masjid tersebut.

Temukan Arah Hidupmu

Maka saya menyadari, konsistensi atas tujuan mengapa saya memilih pekerjaan ini adalah modal saya untuk bisa bertahan. Tentang bagaimana mewujudkan arah hidup apakah itu ke kiri kanan, naik turun, itu tak masalah, selama kompas hidupmu masih mengarah ke satu value yang konsisten. Selama apa yang kita upayakan senantiasa selaras.

Namun kita akan sering bimbang padahal kita seragam sedang lurus menyusuri jalan tol, karena kadang-kadang terpikir apakah kita sedang mau pergi ke Semarang, atau kita sedang mau liburan ke Anyer.

Terima kasih atas semua dukungan dan kemudahan yang telah diberikan. Semoga Allah membalas semua kebaikan.

Thursday, March 17, 2022

Fakta/Mitos#2 - Kalau Nanya Naik Gaji Nanti Kena Blacklist

Saya ga pernah gawe di HC, dan ga pernah nanya ginian ke HC, dan masalahnya juga ga pernah nanya naik gaji di kantor. =)

kalau kalian?

Naik gaji yang pernah saya tanyakan waktu proses interview apply kerjaan. Di situ fight untuk bisa meet kenaikan gaji, dan juga nanya bagaimana rata-rata kenaikan gaji di tempat tersebut. Kalau interviewer ga nyaman dengan pertanyaan kita, berarti bukan masuk kriteria tempat ideal untuk bekerja. Apa salahnya nanya? Ga ada pertanyaan yang salah, kan?

Lantas kalau ada perbedaan ekspektasi pas interview ama pas join, baru ini ditanyakan. Jadi konteksnya bukan nanya naik gaji, tapi nanya janji pada saat proses onboarding dengan kenyataan setelah onboarding. Ga ada salahnya juga menuliskan komitmen pas onboarding.

Hidup itu indah bukan?



- update
Penilaian 2022 telah diberikan. Saya menyaksikan bahwa nilai PA 4 ataupun PA 3 atau bahkan PA 4 dengan promosi grade tidak mendapatkan kenaikan gaji yang signifikan. Berencana setelah euphoria performance 2021 ini selesai ingin menanyakan ini ke HCBP.

Karena tidak punya gambaran keseluruhan atas kondisi karyawan jatuhnya tidak memiliki empati atas hal itu. Tentunya kalau menggunakan prinsip meritokrasi tidak mengapa. Tapi apa itu meritokrasi? Mengutip dari wikipedia:
Meritocracy is a political system in which economic goods and/or political power are vested in individual people based on talent, effort, and achievement, rather than wealth or social class. Advancement in such a system is based on performance, as measured through examination or demonstrated achievement

Thursday, February 24, 2022

Filsafat Kerja - Kuda dan Pedati dan Filsafat Kerja Saya

Dari Pak Dirut terkait dengan filosofi bekerja, beliau mengutarakan bahwa dia percaya kerja dan reward itu seperti kuda dan pedati. Tidak ada pedati didorong ke depan oleh kuda, yang ada adalah kuda di depan menarik pedati.

Ilustrasi Pedati

Sedangkan untuk saya sendiri, saya percaya bahwa rejeki itu sudah digariskan oleh Allah Tuhan semesta alam. Bahwa reward itu sudah digariskan sedemikian rupa sehingga salah satu takdirnya juga saya berbaik sangka bahwa reward saya sedemikian tingginya.

Berbaik sangka bahwa ada banyak cara halal untuk mencapaikan. Berbaik sangka bahwa tanpa melakukan yang harampun saya akan selalu dijamin rejekinya oleh Allah Tuhan Maha Pemberi Rizki. Nah yang tidak dijaminkan oleh Allah adalah bagaimana keadaan kita di akhirat. Sehingga yang perlu kita usahakan adalah berikhtiar sebagus mungkin, semanfaat mungkin, sekecil mungkin dzalim. Pada dasarnya kita dzalim. Selalu ada porsi dzalim bahkan di saat kita mengusahakan untuk bisa adil. Sehingga reward saya adalah kesempatan untuk bekerja berikhtiar di tempat saya pandang memberikan kemuliaan bagi saya.

Namun demikian ini adalah hubungan saya dengan Tuhan saya. Tidak dalam konteks hubungannya dengan employer. Saya harus mengupayakan reward tersebut diberikan, karena ketika saya mengupayakan hal tersebut, itu adalah amal sholeh saya. Kalau saya terima pasrah atas yang dilakukan oleh perusahaan berarti saya berburuk sangka bahwa rejeki saya terbatas atas apa yang saya terima di hari/bulan/tahun sebelumnya.

Filsafat Kuda dan Pedati tidak menyalahi prinsip yang saya pegang. Karena kuda dan pedati adalah keniscayaan akan keadilan. Tentu kalau kita punya pekerja pada saat kita sudah menjadi pengusaha atau pemilik usaha, kita akan memberikan sesuatu sesuai dengan kontribusi yang diberikan. Bukan atas kehadiran/presensi seseorang, melainkan atas kontribusinya. Ini adalah sunnatullah. Dan saya berbaik sangka bahwa Allah tidak akan melupakan pedatinya, dan saya tidak menyandarkan pedati saya ke perusahaan. saya menyandarkan pedatinya ke Allah.

Dan saking saya berbaik sangkanya kepada Allah, jika memang pedati itu tidak ada saat ini, saat sekarang, pedatinya lagi disimpan Allah untuk diberikan nanti ketika bertemu dengan-Nya. Saya akan menagihnya.

Monday, February 21, 2022

Mengelola Jaringan - Menambah "Orang Lain"

Melanjutkan dari tulisan sebelumnya mengenai mengelola jaringan, ingin berbagi tentang apa yang pernah dilakukan untuk secara sadar menambah perbendaharaan jejaring sosial ini, yang saya istilahkan kemarin "orang lain" (karena belum tentu menjadi teman, tapi semoga menjadi teman).

- Menjadi sukarelawan
Kegiatan bekerja terbatas kepada kolega. Untuk bisa bertegur sapa di luar dari kolega, dituntut untuk mengambil tugas di luar pekerjaan utama. Di sinilah banyak aktivitas yang sifatnya sukarela. Mengambil media atau point of interestnya disesuaikan lagi kepada ketertarikan atau passion kita.

Beberapa kegiatan sukarela yang pernah diikutin dulu ikutan excursi ke pulau Pramuka di kepulauan seribu. Untuk kemudian kemarin bergabung di duta bankirpemberdaya dan juga leadership inclusive program.

- Berangkat makan sendiri, gabung dengan meja makan orang lain :)
Ini yang saya lakukan kalau di kantor. Masalah dengan makan siang bersama-sama dengan teman start dari meja kerja adalah waktu untuk melangkah sampai ke tempat makan terus kemudian makan, terus kemudian balik lagi ke meja kerja itu sangat panjang. Mungkin ini adalah cara bersosialisasi, menghabiskan istirahat siang untuk total bersosialisasi, tapi saya butuh istirahat siang benar-benar untuk istirahat :)
Sehingga yang saya lakukan adalah berangkat makan siang sendiri, menyapa yang dikenal pada saat ketemu di jalan (untuk kemudian makan bareng) atau bahkan baru ketemu di tempat makan. Yang ujungnya tetap makan bareng, tapi lebih random.
Kemudahan di sini juga untuk berpisah misal kita ada agenda lain, juga lebih mudah.

- Kelompok Hobi
Bersepeda, main PES, fotografi, koleksi perangko. Tidak ayal ini adalah perekat sosial yang mudah dilakukan juga. Tapi saya yakin, sedikit orang yang belajar hobi untuk ditujukan bersosial, sebagian besar kelompok ini mulai dari passion baru kemudian mendapatkan bonus yakni teman-teman yang punya hobi yang sama.
Saya pernah mencoba bermain PES, dengan niat kalau bisa main PES nanti kalau ketemu temen bisa main PES bareng jadi seru. tapi apa daya, tidak bertahan lama karena saya tidak punya dasar yang kuat untuk kenapa saya harus main PES =)) 

- Bersikap ramah
Tidak ada yang salah dengan bersikap ramah. Kepada siapa saja. Tebarkan salam, demikian pesan utusan Tuhan. Nah tapi mungkin ini ada kelemahannya, dari sini saya lebih mengenal muka daripada mengenal nama.
Mungkin setelah bersikap ramah, selanjutnya adalah saling berkenalan.

- Iktikaf di Mesjid/Musholla :)
Ini tidak saya tujukan untuk bisa mendapatkan jejaring. Namun ini pengalaman unik di perusahaan lama, dengan banyak beraktivitas di musholla, alhamdulillah jamaahnya pun peduli untuk menyapa orang yang tidak dikenal atau orang baru. Saya tidak menyangka dari sini berkembang sampai di tempat kerja, dan dari sini saya mendapatkan kemudahan dari teman-teman yang bertemu di musholla.

Thursday, February 17, 2022

COP: Impian Fasilitas Karyawan Jaman Saya Dulu

Betul. Enak :) Tapi di luar itu sebenernya ada hal lain yang jadi pertimbangan.

Beberapa hal yang menjadi konsekuensi dengan pengambilan COP:

  1. Tidak ada interest/margin pada COP, dengan demikian diharapkan karyawan bisa stay selama program COP tersebut. Perasaan "hemat" jika terus menggunakan fasilitas ini.
  2. Re-financing mobil kudu jadi opsi exit criteria selain lunas. Pertimbangkan opsi ini biar ga jadi beban bahwa COP itu fasilitas yang mengikat. atau,
  3. Jual mobil dan tutup outstanding COP sebagai exit criteria terakhir.
Makin ke sini kalau diperhatikan fasilitas ini tidak menjadi tolak ukur utama, perasaan pribadi.

Pengalaman saya: ambil COP, karena secara pribadi ini adalah impian saya jaman dulu :) semoga mobilnya bisa langgeng dan jadi bahan koleksi sebagai mobil yang tidak perlu keluar uang untuk membeli (balik lagi perasaan saja).

Kalau info dari teman, poin (2) di atas dapat dilakukan ketika pindah ke perusahaan yang memiliki fasilitas serupa. Jadi tidak ribet sebenarnya.
Berasa Kalau Halu Itu Ga Ada Habisnya


Mengajak Tim untuk "Kelihatan"

Beda toko yang punya etalase dan yang ga punya etalase. Toko yang ga punya etalase biasanya: 1. Memang produknya ga sembarang, ga perlu woro...