Waktu itu adalah kesekian kalinya saya mencari pekerjaan baru dan dilakukan proses interview dengan calon atasan. Sebagaimana biasa pertanyaan interviewer adalah apa alasan saya untuk pindah bekerja. Saya jawab adalah kesempatan untuk belajar di environment yang baru.
Benar, sejak kuliah saya merasa beruntung dengan semua kondisi pekerjaan yang saya ikuti. Entah itu magang di GE Consumer Finance dulu, bekerja di perusahaan VoIP, atau mengerjakan proyek di salah satu agency, satu dan lain hal karakter leadership atasan itu sangat bagus. (definisi sangat bagus adalah saya bisa banyak menyerap dan belajar dari karakter tersebut). Entah kenapa tidak ada kesempatan saya untuk explore atau experiment sendiri, tapi tidak masalah toh juga banyak belajar menyerap.
Strong leadership yang banyak memberikan pengaruh untuk saya adalah periode awal-awal 2009-2011. Perusahaan yang baru terbentuk, berkesempatan untuk melihat evolusi dari 20 karyawan menjadi 200 karyawan, bagaimana kecepatan itu menjadi kunci, namun bagaimanapun ketepatannya juga mengikuti, lantas menjadi benchmark tersendiri untuk contoh leadership yang bagus. leadership yang bisa ditiru. Hingga tim ini dipercaya untuk mengkawal embrio anak usaha yang berdiri sendiri.
Kesempatan pun diberikan kepada saya, apakah saya mau ikut serta dalam embrio tersebut.
Saya jawab tidak.
Betul saya tidak memungkiri bahwa bersama mereka, saya tidak perlu mengkhawatirkan karir saya. Semua pembelajaran itu ada, dan semua rewardnya pun dijamin, dan apalagi ini usaha yang sesuai dengan kepercayaan saya, berlandaskan syariah. Namun saya utarakan pada saat itu, saya merasa overshadow - dalam bayang-bayang. Semua yang saya kerjakan entah bagaimana saya mendapatkannya mudah, mendapatkan kepercayaan dari user, mendapat support dari tim development, tim service. Fakta bahwa saya berada dalam circle orang-orang yang keren ini, memudahkan saya. Dan ada pemikiran di kepala saya bahwa jika saya tidak perform pun, circle ini akan membuat kesalahan saya tertutupi. Sebaliknya jika saya perform, maka circle ini juga akan ada "kontribusi", bahwa tidak sepenuhnya ini adalah hasil kerja saya. Tidak saya pungkiri bahwa ini adalah ego saya.
Maka saya memutuskan bahwa saya harus juga belajar mandiri. Mendapatkan leader yang mungkin tidak sama dengan karakter "winning team" tersebut. Bagaimana tetap bisa survive dalam keadaan kita tidak sama dengan atasan kita.
Hahaha. Saya tidak berhenti tertawa. Apa yang saya minta benar-benar terjadi. Lebih parahnya lagi saya tidak punya atasan langsung saat itu. Atasan secara struktur dipegang sementara oleh orang yang tidak mengerti pekerjaan kami. Konflik internal tim, konflik dalam project team, konflik dengan stakeholder lalu lalang silih berganti. Sampai ujungnya unit kami dibubarkan. Pembelajaran berharga. Sangat-sangat berharga.
Pembubaran tim trigger saya untuk pindah kerja di tempat lain. Menyambung jawaban saya kepada calon atasan saya, bahwa saya ingin belajar di environment baru. Jika saya stay di tempat lama, ataupun saya memutuskan untuk pindah ke circle yang saya sebutkan di atas tadi, saya sudah punya gambaran seperti apa lingkungan bekerja dan seperti apa karakter leadershipnya. Saya ingin belajar corporate culture yang baru. Alhamdulillah beliau mengiyakan. Beliau mengaminkan bahwa corporate memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk orang baru belajar corporate culture baru. Bukan sesuatu yang basi "belajar" dijadikan alasan seseorang untuk pindah kerja.
Di tempat baru ini, singkat pengalaman bekerjanya. Naik turun, stress, senang, semua ada. Di setiap waktunya terasa lama -- hahaha. Exactly true. Saya belajar banyak tentang hal baru di sini. Meneruskan pola pembelajaran lama (mengamati kemudian mengaplikasikan), dan pola pembelajaran baru (membentuk karakter diri dan mempertahankan karakter supaya tidak terpengaruh negatif dari lingkungan).