Thursday, March 24, 2022

Mencari Jalan; Tanya Saja; Coba Saja!

Tahun ketiga kuliah, menjadi tantangan pertama untuk bisa keluar dari zona akademisi untuk kemudian mengambil pengalaman PKL (Praktek Kerja Lapangan). Semua tekanan mengalir deras, berawal dari bahwasanya kurangnya jejaring di luar kampus. Rata-rata teman sudah mendapatkan tempat magang dari koneksi kakak kelas, relasi orang tua atau kerabat saudara, atau halnya dengan melakukan kontak dari daftar tempat magang tahun-tahun sebelumnya yang dicatat di tim akademik.

Kemudian hal yang sama saya lakukan dengan kata kuncinya mencari koneksi alumni/kakak kelas yang sudah bekerja di perusahaan. Lantas muncul adalah sosok dari Mas Dodong Cahyono, alumni informatika '91.

Hal yang pertama saya lakukan inquiry by email. 

Tanya saja, pikir saya waktu itu.

Tanya saja!


Benar bahwa tidak ada mekanisme kerja magang di tempat ini, namun Alhamdulillah dapat diusahakan untuk diakomodir. Senang luar biasa. Dari sini pula saya mengenal lebih dekat Gozali (panggilan Egoz) karena dia belum mendapatkan tempat magang, dan saya menawarkan untuk bareng kerja di tempat ini. Perspektif yang berbeda dengan tugas kelompok kuliah tentunya. Kompensasi dari kerja magang ini pun termasuk tinggi dibandingkan dengan tempat magang teman-teman yang lain. Apa yang dilakukan juga real project (dengan demikian setting urgensi juga dapat). 

Merasa senang bahwa dengan yang sudah dilakukan bertambahlah tempat kerja praktek yang baru untuk adik kelas. Menjadi rujukan salah satu tempat kerja lulusan informatika dengan program IMLP-nya (semacam MT untuk divisi IT). Menjadi tempat yang prestisius juga dengan nama besar General Electric.

Oleh-oleh magang yang luar biasa buat saya statemen dari Pak Chairil Anwar (IT Head pada saat itu) adalah; Seberapapun kompleks/mahal/besar sistem yang dibangun selama minim value ke bisnis maka itu tidak ada gunanya. Namun hal yang kecil selama memberikan value yang besar ke bisnis itulah yang benar. Jadi konsisten untuk memvalidasi ke bisnis valuenya.

Tidak sadar bahwa inilah yang diangkat dalam agile value tentang customer value centricity.

Saturday, March 19, 2022

Tanya: Bagaimana Bisa Bertahan di Beberapa Manajemen yang Berbeda?

Ada salah satu teman kerja bertanya, bagaimana saya bisa sustain atau bertahan dalam beberapa manajemen yang berbeda?

Sebelumnya terima kasih atas pertanyaan tersebut, tidak sempat terlintas bahwa saya adalah seorang survivor (penyintas) dalam konteks tersebut. Saya hanya bekerja, dan berusaha untuk bisa bekerja. Ada banyak catatan kalau bisa saya share di sini. Namun ini adalah yang terlintas di benak saya dalam menjawab pertanyaan tersebut.

Kilas balik di 2011an
Tidak dapat dipungkiri bahwa saya bekerja dengan the winning team. Achievement yang luar biasa dan salah satu tempaan saya dalam berkarir dan membentuk karakter saya. Prinsip tentang integritas, tentang komitmen, tentang value ke user. Namun demikian ada yang terpikir di kepala saya, bahwa saya harus bisa 'mandiri', bisa mempunyai warna dalam karakter saya sendiri. Yang kemudian saya sebagiannya saya tuangkan di sini Kesempatan untuk Berkarakter.
Dalam masa tersebut, saya memutuskan untuk bereksperimen dengan leadership yang berbeda. Dari sana saya selling personality saya di luar dari the winning team tersebut.

2015, Reorientasi untuk Perbankan Syariah
Di tahun ini saya memiliki pengalaman bekerja tak terlupakan, kalau sebelumnya berbeda leadership tapi masih satu culture company, di tahun ini benar-benar dengan company culture yang berbeda. Namun komitmen dalam diri pribadi saya putuskan bahwa saya harus mengusahakan sesuatu atas kepercayaan saya, tentang agama saya. Dan saya kembali ke winning team tersebut, namun bukan dengan background utama bahwa mereka adalah the winning team yang membentuk saya, melainkan produk syariah yang menjadi tujuan utama saya. Tentu bagian dari the winning team sangat menguntungkan saya, tidak dapat saya sangkal. Dan saya berterima kasih atas kemudahan tersebut.

2018an, Dinamika Kepemimpinan
Seperti halnya kalau kita sholat berjamaah kemudian imam berganti, yang mungkin bukan sesuai dengan selera kita, apakah kita berhenti sholat berjamaah. Saya jawab tidak. Saya sholat berjamaah di sini bukan karena imamnya, tapi karena pahala yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Pemimpin yang baru bukan juga orang yang benar-benar baru untuk saya. Saya sudah mengenalnya dari 2005 (lebih dari sepuluh tahun yang lalu). Dan ini salah satu kemudahan juga buat saya.

2020an, Dinamika Kepemimpinan Jilid-2
Saya sempat share dalam sebuah forum, ini seperti sebuah sekolah ganti kepala sekolah, apakah kemudian akan ganti program. Hal tersebut menunjukkan resistansi saya. Suatu hal yang wajar atas perubahan yang drastis. Namun saya tekankan dalam diri saya pribadi, saya di sini loyal terhadap produk bank syariah, bukan atas suatu kepemimpinan perusahaan. Selama value ini tetap melekat dalam perusahaan, maka saya akan terus sholat jamaah dalam masjid tersebut.

Temukan Arah Hidupmu

Maka saya menyadari, konsistensi atas tujuan mengapa saya memilih pekerjaan ini adalah modal saya untuk bisa bertahan. Tentang bagaimana mewujudkan arah hidup apakah itu ke kiri kanan, naik turun, itu tak masalah, selama kompas hidupmu masih mengarah ke satu value yang konsisten. Selama apa yang kita upayakan senantiasa selaras.

Namun kita akan sering bimbang padahal kita seragam sedang lurus menyusuri jalan tol, karena kadang-kadang terpikir apakah kita sedang mau pergi ke Semarang, atau kita sedang mau liburan ke Anyer.

Terima kasih atas semua dukungan dan kemudahan yang telah diberikan. Semoga Allah membalas semua kebaikan.

Thursday, March 17, 2022

Fakta/Mitos#2 - Kalau Nanya Naik Gaji Nanti Kena Blacklist

Saya ga pernah gawe di HC, dan ga pernah nanya ginian ke HC, dan masalahnya juga ga pernah nanya naik gaji di kantor. =)

kalau kalian?

Naik gaji yang pernah saya tanyakan waktu proses interview apply kerjaan. Di situ fight untuk bisa meet kenaikan gaji, dan juga nanya bagaimana rata-rata kenaikan gaji di tempat tersebut. Kalau interviewer ga nyaman dengan pertanyaan kita, berarti bukan masuk kriteria tempat ideal untuk bekerja. Apa salahnya nanya? Ga ada pertanyaan yang salah, kan?

Lantas kalau ada perbedaan ekspektasi pas interview ama pas join, baru ini ditanyakan. Jadi konteksnya bukan nanya naik gaji, tapi nanya janji pada saat proses onboarding dengan kenyataan setelah onboarding. Ga ada salahnya juga menuliskan komitmen pas onboarding.

Hidup itu indah bukan?



- update
Penilaian 2022 telah diberikan. Saya menyaksikan bahwa nilai PA 4 ataupun PA 3 atau bahkan PA 4 dengan promosi grade tidak mendapatkan kenaikan gaji yang signifikan. Berencana setelah euphoria performance 2021 ini selesai ingin menanyakan ini ke HCBP.

Karena tidak punya gambaran keseluruhan atas kondisi karyawan jatuhnya tidak memiliki empati atas hal itu. Tentunya kalau menggunakan prinsip meritokrasi tidak mengapa. Tapi apa itu meritokrasi? Mengutip dari wikipedia:
Meritocracy is a political system in which economic goods and/or political power are vested in individual people based on talent, effort, and achievement, rather than wealth or social class. Advancement in such a system is based on performance, as measured through examination or demonstrated achievement

Mengajak Tim untuk "Kelihatan"

Beda toko yang punya etalase dan yang ga punya etalase. Toko yang ga punya etalase biasanya: 1. Memang produknya ga sembarang, ga perlu woro...