Thursday, November 11, 2021

Di Balik Delivery Sebuah Project - Setting Urgensi

Bagaimana caranya mas Mamad bisa me lead bbrapa main project dengan baik & bisa selesai tepat waktu?

Awalnya memberikan tantangan ke teman untuk menanyakan apapun tentang saya. Untunglah tidak ditanyakan berapa gaji saya sekarang.

Sebelum menjawab, saya sangat menghargai bahwa proyek yang saya termasuk terlibat di dalamnya disebut sebagai sukses. Tentunya kalau merunut ke segitiga proyek: kualitas, waktu, anggaran - tentunya saya tidak satupun pernah memenuhi ketiganya, sehingga dengan demikian baru disebut sukses. Namun saya setuju, value yang dideliver dari sebuah proyek tidak harus ketiga itu. Ada value persepsi yang untuk sebagian orang akan berbeda dengan sebagian lain. Saya kategorikan teman yang bertanya ini adalah sebagai anggota tim proyek ini terlibat.

Di balik delivery sebuah proyek, saya tuliskan ada 2 yang dominan:

  1. Hunger dari stakeholder
  2. Partner yang sinkron
Hunger dari stakeholder
Banyak inisiatif yang hanya sekedar ada tanpa urgensi, ataupun kalau ada urgensi tanpa ada kemauan stakeholder yang kuat. Percaya atau tidak, sebagus apapun delivery yang dilakukan maka itu tidak berarti apapun. Sehingga hunger dari stakeholder ini jadi bahan bakar utama untuk proyek bisa terdeliver.

Partner yang sinkron
Hal yang sama juga berlaku di sisi tim/partner yang terlibat. Hunger dari stakeholder yang tidak diresponse oleh tim sebagai urgensi yang sefrekuensi, ujungnya adalah hei... ini hanya kerjaan. Buat apa kerja lebih!?

Ada beberapa variasi yang terjadi di sini:
  1. Sponsor sangat urgent, kita sebagai project lead tidak buy-in urgensi tersebut.
  2. Sponsor udah ok, kita sudah mengerti urgensinya, tim tidak buy-in urgensi tersebut
  3. sponsor ok, project lead ok, tim juga ok - ini adalah ideal kondisi.
Jika bekerja sebagai survival mode, maka kita akan mengerjakan apapun yang diberikan kepada kita. Asal terima gaji, katanya. Namun jika kita punya motivasi lebih, memberikan justifikasi atau feedback apakah project ini urgent atau tidak - maka lebih baik untuk drop project yang tidak urgent, dan fokus hanya yang kita percaya bahwa ada urgensi untuk delivery ini.

No comments:

Post a Comment

Mengajak Tim untuk "Kelihatan"

Beda toko yang punya etalase dan yang ga punya etalase. Toko yang ga punya etalase biasanya: 1. Memang produknya ga sembarang, ga perlu woro...