Saturday, March 19, 2022

Tanya: Bagaimana Bisa Bertahan di Beberapa Manajemen yang Berbeda?

Ada salah satu teman kerja bertanya, bagaimana saya bisa sustain atau bertahan dalam beberapa manajemen yang berbeda?

Sebelumnya terima kasih atas pertanyaan tersebut, tidak sempat terlintas bahwa saya adalah seorang survivor (penyintas) dalam konteks tersebut. Saya hanya bekerja, dan berusaha untuk bisa bekerja. Ada banyak catatan kalau bisa saya share di sini. Namun ini adalah yang terlintas di benak saya dalam menjawab pertanyaan tersebut.

Kilas balik di 2011an
Tidak dapat dipungkiri bahwa saya bekerja dengan the winning team. Achievement yang luar biasa dan salah satu tempaan saya dalam berkarir dan membentuk karakter saya. Prinsip tentang integritas, tentang komitmen, tentang value ke user. Namun demikian ada yang terpikir di kepala saya, bahwa saya harus bisa 'mandiri', bisa mempunyai warna dalam karakter saya sendiri. Yang kemudian saya sebagiannya saya tuangkan di sini Kesempatan untuk Berkarakter.
Dalam masa tersebut, saya memutuskan untuk bereksperimen dengan leadership yang berbeda. Dari sana saya selling personality saya di luar dari the winning team tersebut.

2015, Reorientasi untuk Perbankan Syariah
Di tahun ini saya memiliki pengalaman bekerja tak terlupakan, kalau sebelumnya berbeda leadership tapi masih satu culture company, di tahun ini benar-benar dengan company culture yang berbeda. Namun komitmen dalam diri pribadi saya putuskan bahwa saya harus mengusahakan sesuatu atas kepercayaan saya, tentang agama saya. Dan saya kembali ke winning team tersebut, namun bukan dengan background utama bahwa mereka adalah the winning team yang membentuk saya, melainkan produk syariah yang menjadi tujuan utama saya. Tentu bagian dari the winning team sangat menguntungkan saya, tidak dapat saya sangkal. Dan saya berterima kasih atas kemudahan tersebut.

2018an, Dinamika Kepemimpinan
Seperti halnya kalau kita sholat berjamaah kemudian imam berganti, yang mungkin bukan sesuai dengan selera kita, apakah kita berhenti sholat berjamaah. Saya jawab tidak. Saya sholat berjamaah di sini bukan karena imamnya, tapi karena pahala yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Pemimpin yang baru bukan juga orang yang benar-benar baru untuk saya. Saya sudah mengenalnya dari 2005 (lebih dari sepuluh tahun yang lalu). Dan ini salah satu kemudahan juga buat saya.

2020an, Dinamika Kepemimpinan Jilid-2
Saya sempat share dalam sebuah forum, ini seperti sebuah sekolah ganti kepala sekolah, apakah kemudian akan ganti program. Hal tersebut menunjukkan resistansi saya. Suatu hal yang wajar atas perubahan yang drastis. Namun saya tekankan dalam diri saya pribadi, saya di sini loyal terhadap produk bank syariah, bukan atas suatu kepemimpinan perusahaan. Selama value ini tetap melekat dalam perusahaan, maka saya akan terus sholat jamaah dalam masjid tersebut.

Temukan Arah Hidupmu

Maka saya menyadari, konsistensi atas tujuan mengapa saya memilih pekerjaan ini adalah modal saya untuk bisa bertahan. Tentang bagaimana mewujudkan arah hidup apakah itu ke kiri kanan, naik turun, itu tak masalah, selama kompas hidupmu masih mengarah ke satu value yang konsisten. Selama apa yang kita upayakan senantiasa selaras.

Namun kita akan sering bimbang padahal kita seragam sedang lurus menyusuri jalan tol, karena kadang-kadang terpikir apakah kita sedang mau pergi ke Semarang, atau kita sedang mau liburan ke Anyer.

Terima kasih atas semua dukungan dan kemudahan yang telah diberikan. Semoga Allah membalas semua kebaikan.

No comments:

Post a Comment

Mengajak Tim untuk "Kelihatan"

Beda toko yang punya etalase dan yang ga punya etalase. Toko yang ga punya etalase biasanya: 1. Memang produknya ga sembarang, ga perlu woro...