Thursday, February 24, 2022

Filsafat Kerja - Kuda dan Pedati dan Filsafat Kerja Saya

Dari Pak Dirut terkait dengan filosofi bekerja, beliau mengutarakan bahwa dia percaya kerja dan reward itu seperti kuda dan pedati. Tidak ada pedati didorong ke depan oleh kuda, yang ada adalah kuda di depan menarik pedati.

Ilustrasi Pedati

Sedangkan untuk saya sendiri, saya percaya bahwa rejeki itu sudah digariskan oleh Allah Tuhan semesta alam. Bahwa reward itu sudah digariskan sedemikian rupa sehingga salah satu takdirnya juga saya berbaik sangka bahwa reward saya sedemikian tingginya.

Berbaik sangka bahwa ada banyak cara halal untuk mencapaikan. Berbaik sangka bahwa tanpa melakukan yang harampun saya akan selalu dijamin rejekinya oleh Allah Tuhan Maha Pemberi Rizki. Nah yang tidak dijaminkan oleh Allah adalah bagaimana keadaan kita di akhirat. Sehingga yang perlu kita usahakan adalah berikhtiar sebagus mungkin, semanfaat mungkin, sekecil mungkin dzalim. Pada dasarnya kita dzalim. Selalu ada porsi dzalim bahkan di saat kita mengusahakan untuk bisa adil. Sehingga reward saya adalah kesempatan untuk bekerja berikhtiar di tempat saya pandang memberikan kemuliaan bagi saya.

Namun demikian ini adalah hubungan saya dengan Tuhan saya. Tidak dalam konteks hubungannya dengan employer. Saya harus mengupayakan reward tersebut diberikan, karena ketika saya mengupayakan hal tersebut, itu adalah amal sholeh saya. Kalau saya terima pasrah atas yang dilakukan oleh perusahaan berarti saya berburuk sangka bahwa rejeki saya terbatas atas apa yang saya terima di hari/bulan/tahun sebelumnya.

Filsafat Kuda dan Pedati tidak menyalahi prinsip yang saya pegang. Karena kuda dan pedati adalah keniscayaan akan keadilan. Tentu kalau kita punya pekerja pada saat kita sudah menjadi pengusaha atau pemilik usaha, kita akan memberikan sesuatu sesuai dengan kontribusi yang diberikan. Bukan atas kehadiran/presensi seseorang, melainkan atas kontribusinya. Ini adalah sunnatullah. Dan saya berbaik sangka bahwa Allah tidak akan melupakan pedatinya, dan saya tidak menyandarkan pedati saya ke perusahaan. saya menyandarkan pedatinya ke Allah.

Dan saking saya berbaik sangkanya kepada Allah, jika memang pedati itu tidak ada saat ini, saat sekarang, pedatinya lagi disimpan Allah untuk diberikan nanti ketika bertemu dengan-Nya. Saya akan menagihnya.

No comments:

Post a Comment

Mengajak Tim untuk "Kelihatan"

Beda toko yang punya etalase dan yang ga punya etalase. Toko yang ga punya etalase biasanya: 1. Memang produknya ga sembarang, ga perlu woro...